De GCS Squad

Chapter 1.

Dusun Rowoasri pekat malam itu. Pohon-pohon albasia yang menyelimutinya menampakkan bayang-bayang kelam, juga pohon kopi dan asem. Hanya suara kelelawar menggoyang-goyang buah rambutan di pohonnya yang juga gelap. Mungkin akan hujan, mungkin juga tidak.

Tak ada yang tahu, bahwa ada sekelebat bayangan melintas. Cepat seperti kilat. Tak jelas wujudnya,  tapi kilauan matanya seperti kilauan mata kucing tertimpa sinar bulan di musim kemarau. Tapi dengusnya adalah nafas manusia. Kemudian terdengar suara berderak. Ada beberapa keributan, teriakan dan juga lengkingan. Dengan sangat cepat kelebat bayangan itu melesat pergi. Seketika suasana dusun Rowoasri menjadi ramai, hampir semua rumah terbakar. Teriakan penduduk bersahut-sahutan, ada yang meminta tolong ada yang berusaha menyelamatkan diri.

Pagi harinya, ketika matahari belum penuh keluar dari timur. Sekelompok pasukan khusus telah berjaga di sekitar dusun Rowoasri. Rupa-rupanya mereka adalah Pasukan Detasemen 88, pasukan anti teror yang namanya melegenda. Beberapa ahli forensik dan ilmuwan berkeliling mencari korban yang siap untuk diotopsi. Seketika itu juga muncul sebuah helikopter yang dengan tiba-tiba mendarat di tengah lapangan bola. Dari dalam keluarlah sosok cantik seorang repoter dan juru kamera. Rupanya mereka adalah wartawan televisi. Keduanya pun segera beraksi mencari pihak yang bisa diwawancarai.

”Selamat pagi pemirsa, jumpa lagi bersama saya Roro Ayu dalam acara Nyidik, Liputan Seputar Dunia Kriminal. Di belakang saya adalah lokasi tempat kejadian kebakaran misterius semalam. Disamping saya sudah ada komandan Pasukan Detasemen 88, Kolonel Wiryono” reporter cantik itu melaporkan beritanya.

”Pak Wiryono, mohon dijelaskan sebenarnya apa yang terjadi semalam di dusun ini? Kenapa hampir seisi tempat ini hangus terbakar?” Roro melayangkan pertanyaanya dengan tajam.

Sementara itu, dengan senyumannya yang khas Kolonel Wiryono menjawab, ”Apa yang terjadi semalam masih dalam penyelidikan, sepertinya ada hubungannya dengan aksi teror selama ini yang terjadi di negara kita.”

”Maksud anda organisasi teroris Wal Kaheda, yang dipimpin Udin Ngetop?” Roro terus mencoba mengajukan pertanyaan.

Dengan seutas keraguan terlintas di wajahnya, Kolonel Wiryono menjawab ”Saya belum tahu pasti, karena penyelidikan belum tuntas”. Kemudian dengan santainya ia ngeloyor pergi meninggalkan sang reporter yang masih menyimpan berjuta rasa ingin tahu.

Kejadian yang diliput oleh sang reporter tadi ditayangkan secara live di layar televisi. Sesosok bayangan manusia terperanjat melihat liputan tadi dari ruang kerjanya. Tak berapa lama kemudian handphonenya berbunyi.

Sosok tadi segera menyambar handphone dan menjawab panggilan tadi ”Hallo, dengan Professor Wakhid di sini! Siapa ini?”

”Hallo Prof…masih ingat dengan kami…sudah melihat liputan di Televisi…itu baru sebgian kecil” ujar suara dibalik telephon genggam.

”Dead Zone!…Kalian…memanfaatkan penemuanku…Biadab…Sungguh teganya kalian!” sosok yang ternyata bernama Professor Wakhid itu terlihat geram dan marah.

”Anda tak perlu marah Prof…android ciptaan anda luar biasa…hanya sungguh sayang prof…mengapa anda melarikan diri dari organisasi. Anda membuat kami kecewa!” Suara dibalik handphone terdengar menggertak.

”Kalian memang organisasi Biadab!”

”Ho…ho…ho! Anda memang keras kepala Prof, jadi jangan salahkan kami jika hari ini hidup anda akan berakhir!” Suara itu kembali mengancam.

”Sungguh Biadab…Apa yang akan kalian lakukan padaku?” terlihat tubuh prof. Wakhid bergetar ketakutan.

”Ciptaan anda sendirilah yang akan menghabisi nyawa anda! Lihatlah sekarang ke luar jendela”

Professor Wakhid segera bergerak menuju ke arah jendela dan memandang keluar. Terlihat sosok bertopeng hitam dengan matanya yang merah membara mengarahkan telapak tangannya ke arah sang professor. Seketika itu juga cahaya merah melesat dari telapak tangannya menghantam ke arah jendela tempat professor Wakhid berada, dan BUUUM! Terjadilah sebuah ledakan dahsyat! Akankah sang professor tewas?

Chapter 2.

Ledakan pun tak terelakkan. Bisa dimungkinkan jiwa professor Wakhid tidak terselamatkan. Kemudian sosok bertopeng hitam itu segera melesat pergi meninggalkan tempat itu. Kondisi ruangan porak poranda hampir tiada tersisa. Namun siapa sangka desah nafas kehidupan masih terdengar dibalik puing reruntuhan. Memang sungguh luar biasa kekuasaan Tuhan, jika ia masih menginginkan hambanya untuk hidup maka hiduplah dia. Dengan kondisinya yang lemah Professor Wakhid berusaha melepaskan diri dari puing-puing yang menimpanya.

”Dead Zone Biadab” Batin sang professor berkata. Lalu iapun segera mengaktifkan PDA di balik kantongnya yang ternyata masih utuh. Dengan tenaga yang tersisa ia berusaha menghubungi sahabatnya DR. Andhika dan Sir M. J.

”Ayo segeralah terhubung…hanya kalianlah harapanku sekarang ini!”

Seketika itu juga muncul dua sosok wajah di layar PDA sang Professor. Sosok yang pertama berwajah bijak dengan kulitnya yang agak kehitam-hitaman dan sosok yang kedua berwajah ceria dengan postur agak gemuk.

”Whassup Bro…?” Sir M.J mengajukan pertanyaan.

”Yo ada apa kiranya…?” Andhika tak kalah penasaran.

Professor Wakhid segera menjawab ”Dunia akan kiamat bila kita tidak bertindak sekarang…Organisasi Dead Zone telah memanfaatkan aku untuk menciptakan mesin penghancur…tak banyak yang bisa kujelaskan di sini. Nanti kujelaskan di tempat biasa kita bertemu.

”Okay lah kalau begitu” mereka berdua menjawab serempak.

Sementara itu di Under Deep Sea, markas organisasi Dead Zone. Semua anggotanya tengah berkumpul dalam rangka persiapan menguasai dunia. (to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s