Kusumaning Ati

Malam itu tak seperti biasanya rembulan tersipu-sipu malu di balik awan. Desir angin menembus kulit menambah dingin suasana malam itu. Sayup-sayup terdengar alunan lagu campursari Didi Kempot dari radio fm tuaku yang selalu setia menemani malam-malamku, selalu mencoba menghiburku dikala duka dan tertawa dikala suka. Kebetulan lagu yang dibawakan malam itu berjudul ”Kusumaning Ati”

Kusumaning Ati…

Wong ayu sing tak anti-anti…

Mung tekamu bisa gawe tentreming atiku…

Lagu itu terdengar merdu di telingaku, dan entah kenapa lagu itu menghanyutkan semua persaaanku pada malam itu. Sambil menikmati alunan nada kucoba merebahkan diriku di bale bambu kesayanganku. Sejenak mataku terpaku pada sebuah foto yang ada di handphoneku. Foto seorang gadis manis dengan posenya yang natural dan elegan. Ia terlihat manis tanpa polesan make up amaupun riasan lainnya. Jilbabnya terlipat rapi, buka jilbab instant asal pasang.

Meskipun ekspresi wajahnya tidak begitu jelas namun terlihat senyum manisnya yang menyentuh kalbu. Detik demi detik wajah itu menghipnotisku, membawaku melayang. Ia tidak secantik Aphrodite, sang dewi cinta, tidak pula setegar Athena, sang dewi pengetahuan. Namun hatiku tetap berkata ia merupakan seorang titisan dewi.

“BIM!” Suara itu membuyarkan lamunanku.

”Alah mak Bim…foto gadis cantik itu lagi yang kau pandang…tak bosan-bosannya kau memandangnya” Bang Azrul menegurku sambil duduk di depanku seraya menikmati kopi.

”Ah abang ini bisa saja” jawabku tersipu malu

”Abimanyu…Abimanyu…kau ini pria yang aneh menurut awak…coba kau lihat diri kau…tak puas-puasnya kau pandangi itu foto…sudahlah kau lamar saja dia beres kan? Apalagi kau ini sudah cukup umur Bim!” Seperti biasa Bang Azrul menggodaku.

”Aku terdiam seribu basa, bukan karena kehabisan ide atau kata-kata namun perasaan dan logikaku belum menyatu. Melihatku diam Bang Azrul pun tersenyum, sepertinya ia paham akan apa yang sedang kurasakan. Tanpa membalas pertanyaan Bang Azrul kubalikkan badanku dan perlahan kupejamkan kedua mataku.

***

Abimanyu, itulah namaku. Nama yang diambil dari tokoh pewayangan putra sang Arjuna yang berwajah tampan dan berjiwa satria. Hanya sayangnya aku tak seberuntung Abimanyu dalam pewayangan. Keadaan fisikku berbanding terbalik…jauh dari tampan seperti Abimanyu. Mungkin karena badanku yang super gendut inilah yang membuatku tak mirip dengan sang tokoh wayang. Parahnya lagi petualangan cintaku juga tak seberuntung Sang Abimanyu dalam wayang dimana ia bisa mendapatkan pasangan hidup yang luar biasa cantik. Sedangkan aku boro-boro mendapat pasangan cantik…banyak gadis yang menolak cintaku (waduh kenapa jadi buka rahasia). Mungkin karena badanku yang endut ini membuat mereka merasa risih berada di dekatku.

Sebenarnya aku sudah bosan mencari cinta yang tak kunjung datang, namun entah kenapa Cupid selalu menusukkan panah-panah asmaranya di hatiku. Hingga saat ini hatiku tertambat pada sosok gadis yang selalu kupandangi fotonya tiap malam.

Memang cinta itu rumit dan njlimet susah untuk di ungkapkan dengan logika. Dan semuanya itu bermula dari satu bulan yang lalu di mana si Cupid mulai menggoda hatiku dengan pesona wajah Ratri Kusumaningtyas, gadis yang selalu kupandangi fotonya. Setahun sudah aku kenal Ratri namun baru kali ini muncul perasaan yang bergejolak di dalam hati pada saat ku berada di dekatnya.

Kami berdua memang bekerja pada institusi yang sama, tepatnya bergerak di bidang pendidikan. Sebagai staff pengajar secara otomatis kami sering bertatap muka dan ngobrol tentunya. Hanya saja kesan pertamaku terhadap Ratri adalah sosok cewek manja, jaim, dan tipe anak mami. Tidak pernah sedikitpun terbersit keinginan untuk mendekati bahkan menaruh hati padanya. Bagiku Ratri bukanlah tipe gadis idamanku.

Namun kenapa sebulan ini seakan-akan hanya Ratri yang selalu menghiasi hatiku…oh apa kata dunia…aku jatuh cinta dengan Ratri. Mungkin ini karma yang harus kuterima karena sikapku yang sok antipati terhadapnya.

***

”BIM! Bangunlah KAU…Tak mengajar memangnya kau hari ini?” Suara Bang Azrul bagai Ayam jantan berkokok membangunkan tidurku.

”Ya mengajarlah bang” jawabku malas

”Ya Sudah! Segera Mandi Sana, Nanti Kau terlambat lagi!”

Akupun segera menuju kamar mandi dan menikmati segarnya air dingin yang mengguyur tubuhku. Entah kenapa hari ini aku bersemangat sekali berangkat bekerja. Mungkinkah karena Ratri?

Tak lama kemudian aku pun sudah bersiap berangkat ke kantor, Bang Azrul pun dengan setia menanti di jok belakang motorku. Dan pagi itu kami berdua seperti biasanya meninggalkan rumah menuju kantor tempat kami menjalani sisi lain kehidupan.

Dan sepertinya hari ini Tuhan memberiku Anugrah, tak kusangka Ratri sudah menungguku di depan pintu Kantor. Pucuk dicinta Ulam pun tiba.

Good morning Sweety”, sapaku

Morning Bim”, jawab Ratri tersenyum kecil

”Oya Bim kamu ada waktu sebentar? Ratri mau ngobrolin sesuatu nih sama kamu”

”Ngobrol? Nggak biasanya deh…memang ada apa sih?” Jawabku agak jaim.

”Ya ngobrol soal kerjaan dong…memangnya apalagi?”

”Ooh kirain ngobrol soal kita”

What?” Ratri penasaran

Just forget it, well gimana yah…jam 10.00 di kantin Ok! Soalnya aku harus mengajar dulu” sahutku dengan nada cuek.

”Baiklah, deal

Ratri pun segera berjalan meninggalkan diriku yang masih terus menatapnya, hingga akhirnya bayangannya hilang dari hadapanku. Aku segera tersadar dan beranjak menuju ke kelas di mana anak-anak didikku sudah menunggu.

Tak terasa waktu terus berlalu dan waktu telah menunjukkan jam 10.10 namun Ratri belum juga muncul di hadapanku. Aku hanya bisa termangu menunggu dengan sejuta khayalan menghiasi pikiranku.

”Sorry, aku sedikit terlambat” ucapan itu membuyarkan semua fantasi dan lamunanku.

”Eh..nggak kok baru 10 menit” aku merasa gugup melihat Ratri duduk di hadapanku. Belum pernah dia sedekat ini denganku. Wajahnya memang terlihat jelas manis seperti titisan sang Dewi.

”Hei…ada yang salah denganku?” Ratri agak salah tingkah ketika mataku masih terus menatap kecantikan dirinya.

”Tidak…tidak ada yang salah…perfect”

”Lantas kenapa kamu masih menatapku terus?” Ratri menjadi tambah penasaran.

”Ohh…maafkan aku Ratri…pesona kecantikanmu membuatku tak bisa memalingkan muka.”

”Ahh gombal, sudah langsung ke intinya saja”

”Hei…hei, janganlah terburu-buru…relakslah…nona manis kamu mau minum apa?”

”Lemon tea”

”Baiklah…Mas Lemon tea dua!” kataku pada si pelayan yang menghampiriku.

”Okey aku siap…kita mau ngobrolin apa?” aku bertanya dengan rasa penasaran

Dengan detail Ratri menjelaskan mengenai permintaan Big Boss terhadapnya. Ia diminta untuk mempersiapkan project yang beresiko tinggi. Memang resikonya sangat tinggi karena nama sekolah yang dipertaruhkan. Memang untuk project sebesar ini Ratri belum begitu familiar, bisa dimaklumi dia kan seorang newbie dalam project-projet penting seperti ini.

”Well sepertinya aku nggak minat dengan project ini…it’s time for you sweety to show up” aku merasa malas membantu Ratri dalam proyek yang ditawarkannya padaku.

”Jangan gitu dong Bim…kamu tega membiarkan aku bergerak sendiri menuju sarang penyamun…Ayolah Bim masa kamu tega …kamu tahu kan karakter Big Boss gimana? Ratri menatap wajahku dengan pandangan mengiba. Tak tega rasanya aku memandang wajahnya yang putih bersih berubah pucat mengiba.

Aku terdiam sejenak, berpikir. Logikaku bersikeras agar aku tak turut campur dalam urusan project yang di handle oleh Ratri. Namun hati kecilku berkata lain, sungguh teganya aku membiarkan seorang gadis manis yang senyumnya selalu menghiasi malam-malamku berada di ujung tanduk sendirian. Sungguh kejamnya diriku.

”BIM!” Suara merdu itu membuyarkan pikiranku.

”Eh…sampai mana kita tadi?”

”Ayolah Bim…kamu mau kan membantu aku menyelesaikan project dari Big Boss ini?” Ratri masih kekeuh dengan ajakannya.

”Hmm, baiklah tapi dengan satu syarat…..” aku terdiam sejenak menghentikan perkataanku.

”Syaratnya apa? Ayo Bim katakan…aku akan turuti asal kamu mau bantu aku”

”Syaratnya simple…kamu tidur sama aku malam ini gimana?” kataku dengan nada serius.

”Gila kamu Bim…Najis tau…aku bukan perempuan murahan!” Ratri berteriak dengan nada tinggi.

”Lho kok marah? Katanya mau menuruti apa saja persyaratanku asal aku mau membantumu…so jangan sewot dong?” dengan nada santai aku menjawab kemarahan Ratri.

”Iya juga sih…tapi bukan hal seperti itu yang mau aku turuti” Ratri menunduk perlahan wajahnya memerah.

”Ha..ha..ha I’m just joking manis” aku tertawa dengan keras. Akhirnya akau bisa membuat gadis manis ini terjebak dengan ucapannya sendiri.

”Hei nona manis…aku bukan tipikal pria hidung belang yang akan berusaha mencari kesempitan dalam kesempatan.”

”So…apa syaratmu?” Wajah Ratri pun kembali cerah.

”Gimana kalau selama seminggu kamu traktir aku cappucino?”

”That’s good offer, okey Deal ya!”

”Deal”

Kamipun tertawa bersama, hari itu seakan hari yang paling indah diantara hari-hari sebelumnya bagiku.

***

Sejak saat itu hubunganku dengan Ratri semakin dekat, namun hubungan itu bukanlah hubungan yang selama ini kuinginkan. Kami bukanlah sepasang kekasih, kami hanyalah partner kerja. Aku tak merasa yakin perasaan yang kurasakan akan ditanggapi Ratri dengan serius. Selama ini yang kurasakan perhatiannya padaku hanya sebatas partner or friends.

Malam-malamku menjadi lebih semrawut dibandingkan malam-malam sebelumnya. Deadline project yang menumpuk di tambah hatiku yang berkecamuk tak karuan memandangi senyum Ratri yang tidak semakin memudar tiap harinya.

Logika dan hati kecilku saling bertarung memperebutkan hegemoni keputusan akhir apa yang harus kulakukan, haruskah aku dengan tegas meminta Ratri menjadi pendamping hidupku? Atau haruskah aku berdiam diri menikmati rasa sakit dan semrawutnya hatiku? Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menuruti saran Bang Azrul untuk menuruti isi hatiku?

Mataku mulai terpejam, sayup-sayup suara merdu alunan musik campursari ”Ketaman Asmara” makin menambah semrawutnya hatiku.

Yen arep crita karo sapa

Yen ora crita kok tambah nelangsa

Apa kaya ngene rasane ketaman asmara…

Ratri Kusumaningtyas…kenapa dari sekian wanita yang pernah kucintai hanya kamu yang selalu menghantui hidupku. Hanya kamu yang selalu mengusik perasaanku. Ratri Kusumaningtyas…Kusumaningtyas…tyas bermakana hati…Kusumaningtyas bisa dimaknai Kusumaning Ati. Mirip seperti judul lagu campursari favoritku yang sering dinyanyikan Didi Kempot.

Ratri sudah menjadi kusumaning ati bagiku. Mungkin dialah sosok wanita yang aku idamkan selama ini. Sepertinya benar apa yang disampaikan Bang Azrul kepadaku, turutilah apa kata hatimu. Dan hatiku sekarang berkata Apapun yang terjadi…Ratri aku mencintaimu sepenuh hati. Hidupku hampa tanpa hadirmu. Besok adalah hari baru dimana aku akan terbebas dari jerat kebimbangan perasaanku terhadap Ratri. Apapun yang terjadi esok hari Ratri harus tahu apa isi hatiku.

Patean, 17 September 2008

Untuk seseorang yang selalu menjadi kusumaning atiku………

Kelanjutannnya silahkan klik link berikut: http://kemudian.com/users/marquize_zhu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s